Selasa, 02 Desember 2008

HIDUP DALAM KESEDERHANAAN


Hidup sederhana berhubungan dengan sikap hati seseorang terhadap harta benda atau kekayaan yang dia miliki. Orang yang memilih untuk hidup sederhana tidak membiarkan hatinya dikuasi berbagai macam kemewahan yang lebih cenderung memuaskan keinginan mata dan keangkuhan hidup. Oran yang hidup sederhana dapat mengatur harta miliknya agar bias membawa dampak positif bagi Kerajaan Allah.
Dewasa ini budaya hidup materialistis dan konsumeristis merupakan tantangan yang cukup berat bagi orang-orang percaya termasuk juga hamba-hamba Tuhan. Budaya hidup yang sangat bertolak belakang dengan pola hidup sederhana ini telah mendorong kita untuk menilai seseorang berdasarkan barang-barang yang ia miliki: rumahnya, mobilnya, merk baju, tas, jam, sepatu atau hanphone-nya. Sebenarnya tidak ada larangan untuk menikmati berkat-berkat Tuhan melalui semuanya ini, namun jangan sampai gaya hidup dunia ini membuat kita kehilangan tujuan hidup kita yang sesungguhnya di dalam dunia ini.
Palungan menjadi perenungan bagi setiap orang percaya yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan nafsu yang kuat untuk hidup di dalam kemewahan dan menilai harga diri seseorang berdasarkan kekayaan yang ia miliki. Ingatlah bahwa dengan diletakkanNya Yesus di dalam palungan tidak pernah mengubah statusNya sebagai Anak Allah yang Maha Tinggi. ALLAH telah mengajarkan kepada kita sebuah pola hidup sederhana yang akan memberikan keleluasaan kepada kita untuk hidup di dalam kehendakNya. Dengan hidup sederhana kita belajar memikirkan kepentingan Kerajaan Allah daripada kepentingan diri kita sendiri. Pola hidup sederhana merupakan perwujudan dari sifat penguasaan diri yang kuat di mana kita menang atas ketamakan dan kepentingan diri sendiri.
Kata-kata Bijak: Kemewahan membuat manusia lupa Tuhannya, Kesederhanaan membuatnya lupa pada kesenangan dunia.
(Manna Sorgawi, Desember 2008)

Arti Kasih

1 Korintus 13:1-13
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.